Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Kesehatan ::: Wow! Di Afrika, Tikus Raksasa Dilatih untuk Deteksi TB di Penjara

Wow! Di Afrika, Tikus Raksasa Dilatih untuk Deteksi TB di Penjara

Wow! Di Afrika, Tikus Raksasa Dilatih untuk Deteksi TB di Penjara.

SilahkanSHARE.com | Tikus mungkin sudah dikenal dengan binatang yang menjijikan dan suka membuat keributan di atap-atap rumah, tapi dibalik itu semua ternyata tikus mempunyai keahlian yang sangat luar biasa, mereka bisa mendeteksi tuberkulosis (TB).

Peneliti dan petugas kesehatan di Tanzania dan Mozambik punya ide unik. Mereka melatih tikus-tikus raksasa untuk mendeteksi tuberkulosis (TB) di penjara.

Lembaga swadaya masyarakat asal Belgia, APOPO, mengembangkan spesies tikur raksasa Afrika (African Giant Pouched Rat) untuk dilatih mendeteksi TB di penjara-penjara Tanzania dan Mozambik yang penuh sesak. Kepadatan penjara ditambah kurangnya pemahaman untuk skrining membuat kematian akibat TB di penjara termasuk besar.

“Kami percaya metode unik untuk deteksi TB menggunakan tikus merupakan cara efektif untuk skrining massal,” tutur direktur APOPO, Charlie Richter, dikutip dari Reuters dan detikhealth.com [30/03/16].

Pelatihan tikus dimulai sejak usia 4 minggu ketika tikus membuka mata untuk pertama kalinya. Mereka diberi berbagai macam rangsangan mulai dari bau hingga suara dan dibiasakan untuk berinteraksi dengan manusia.

Para tikus juga diajari untuk mengenali dahak yang mengandung bakteri TB. Ketika mereka menemukan dahak yang mengandung bakteri TB, mereka diberi hadiah berupa makanan. Teknik ini terbukti sukses di mana para tikus hanya butuh waktu 3 detik untuk mengenali dahak yang mengandung bakteri TB.

Richter mengatakan tingkat akurasi tikus sangat tinggi, hampir 100 persen. Hanya satu kekurangannya, para tikus tak bisa membedakan mana TB biasa dan mana multi-drug resistance (MDR-TB) yang sudah kebal obat.

“Metode ini murah dan cepat, sehignga cocok untuk deteksi massal di negara-negara miskin. Biaya yang dibutuhkan hanya 20 sen Amerika (sekitar Rp 2.600) untuk satu orang,” tutur Richter lagi.

Hingga saat ini sudah ada lebih dari 340.000 sampel TB yang dideteksi oleh tikus. Berdasarkan penelitian di beberapa klinik di Tanzania, risiko kematian akibat TB berkurang hingga 40 persen dan kurang lebih 36.000 orang berhasil disembuhkan karena terdeteksi lebih awal.

Khadija Abraham, pakar dari National Leprosy and Tuberculosis Programme Tanzania mengatakan tikus yang sudah dilatih memiliki indra penciuman yang tajam. Mereka mampu mencium bau molekul-molekul kuman TB dan sangat efektif untuk mendeteksi TB di daerah terpencil.

“Melatih binatang merupakan cara yang tepat untuk skrining penyakit seperti TB karena interaksi yang dilakukan manusia sangat sedikit. Selain kemampuannya sudah teruji, metode ini juga bisa menghemat anggaran kesehatan,” tuturnya.

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Terlalu banyak informasi NEGATIF beredar di internet, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan inspirasi dan memotivasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan, serta kebaikan untuk pembacanya. Saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet. Kami ingin memastikan setiap tulisan di silahkanSHARE.com memang layak DIBACA dan DISHARE untuk memberikan kebaikan untuk para pembacanya! Anda setuju dengan KAMI, Silahkan bantu LIKE dan SHARE!

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Nasi Putih Lebih Berisiko Sebabkan Diabetes Ketimbang Minuman Manis?

Nasi Putih Lebih Berisiko Sebabkan Diabetes Ketimbang Minuman Manis? SilahkanSHARE.com | Otoritas kesehatan di Singapura …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *