Thursday , 18 May 2017

Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Sains ::: Pakar Ungkap, Purnama Bisa Memicu Gempa?

Pakar Ungkap, Purnama Bisa Memicu Gempa?

Pakar Ungkap, Purnama Bisa Memicu Gempa?

SilahkanSHARE.com |Apakah fase bulan berkaitan dengan kejadian gempa? Pertanyaan itu menjadi teka-teki bagi para ilmuwan dan awam selama puluhan tahun. Kini, studi terbaru mengonfirmasinya.

Satoshi Ide, pakar seismologi dari University of Tokyo lewat publikasinya di jurnal Nature Geoscience pada Senin (12/9/2016) mengungkap bahwa fase bulan memang jadi salah satu faktor yang turut memicu gempa.

Menurut Ide, gempa besar seperti yang terjadi di Chile tahun 2010 dan Jepang pada 2011 cenderung terjadi saat purnama atau bulan mati, saat tekanan pasang mencapai titik tertinggi.

Untuk mengungkap hal itu, Ide menginvestigasi tiga rekaman gempa yang terjadi di Jepang, California, dan berbagai belahan dunia lainnya.

Dia menganalisis tekanan pasang 15 hari menjelang dan sesudah gempa besar. Hasilnya, gempa di Chile dan Tohoku, Jepang, terjadi saat tekanan pasang mencapai titik tertinggi.

Menganalisis lebih dari 10.000 gempa, Ide menemukan bahwa gempa yang terjadi saat tekanan pasang maksimum punya peluang lebih besar mencapai magnitudo M 8.

“Riset ini adalah cara inovatif untuk menjawab isu yang telah menjadi perdebatan sekian lama,” kata Honn Kao, pakar seismologi di Geological Survey of Canada.

“Temuan ini memberikan petunjuk tentang hubungan antara tekanan pasang dan terjadinya gempa besar,” imbuhnya seperti dikutip Kompas.com dari Nature, Senin.

Riset ini tak menyimpulkan bahwa setiap bulan purnama atau mati akan terjadi gempa. Demikian juga, tak setiap gempa besar terjadi pada saat purnama atau bulan mati.

Kesimpulan riset adalah bahwa tekanan pasang yang terjadi saat bulan purnama atau mati berpotensi memicu transfer tekanan lempeng sehingga memicu gempa besar.

John Vidale, seismolog University of Washington yang selama ini kerap meluruskan klaim kaitan gempa dan purnama mengatakan, hasil riset ini bisa dipertanggungjawabkan. “Tim melakukan riset dengan sangat teliti,” katanya.

Walaupun menjawab teka-teki puluhan tahun, Ide mengungkapkan bahwa riset ini tak akan memberi pengaruh pada strategi mitigasi gempa bumi. Masyarakat harus waspada bencana kapan saja.

Meski dipengaruhi oleh pasang, peluang terjadinya gempa di hari tertentu di kawasan yang rawan gempa rendah dan sulit diprediksi. “Terlalu kecil untuk menjadi basis merencanakan aksi,” katanya.

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Berdasarkan data UNESCO, minat baca orang Indonesia sangat rendah diurutkan ke 60 dari 61 di dunia. Namun fakta mengejutkan lainnya, ternyata netizen Indonesia adalah yang paling cerewet di dunia. Dengan fakta itulah, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan informasi dan inspirasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembacanya. Apalagi saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan memang harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet.

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Inilah yang Terjadi pada Otak Manusia Saat Sedang Tidur

Inilah yang Terjadi pada Otak Manusia Saat Sedang Tidur. SilahkanSHARE.com | Mengapa manusia menghabiskan sepertiga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *