Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Politik ::: Mengapa Harus Ahok yang Pimpin Jakarta, Bukan Mereka?

Mengapa Harus Ahok yang Pimpin Jakarta, Bukan Mereka?

Mengapa Harus Ahok yang Pimpin Jakarta, Bukan Mereka?

SilahkanSHARE.com | Saya berharap dalam membaca tulisan ini, anda jangan pernah menggunakan analisa sara, atau etnis, jika anda termasuk orang yang berfikir seperti itu, pesan saya, jangan pernah melanjutkan membaca tulisan ini.

Karena menurut saya pribadi, jika dari awal sudah “bermodal” pemikiran dan analisa kotor, maka hasilnya juga dipastikan akan kotor juga.

Saya berharap dengan saya “membookmark” tulisan asli dari  seorang pengamat sosial bernama Denny Siregar ini, kita semua bisa menganalisa baik dan benarnya atas analisa ini.

Jika memang anda memiliki pendapat yang berbeda dengan penulis, maka silahkan anda BERBALAS IDE dengan TULISAN dan PEMIKIRAN juga, dengan cara itu pembaca akan mendapatkan informasi yang berimbang dengan cara tidak perlu saling mencela apalagi menghina.

Berikut ini merupakan judul asli dari tulisan yang saya baca dari sumber tulisan disini.

Saya tidak mengerti, mengapa Tuhan mengirim Ahok, bukan muslim pribumi untuk memimpin Jakarta?

Mengapa Tuhan mengirim seorang Ahok? Kenapa Tuhan tidak mengirimkan seorang muslim pribumi untuk memimpin Jakarta? Artikel ini ditulis dengan cukup menyeluruh dan mencakup banyak aspek.

Sentimen anti Cina

Sudah sekian lama, sejak era orde baru, sentimen anti Cina melekat sebagai bagian dari dinamika perkembangan di Indonesia. Kerusuhan tahun 1946, kerusuhan tahun 1963 di ITB Bandung dan yang sangat terkenal adalah peristiwa tahun 1998. Situasi tahun 98′ lah yang terburuk, dimana warga keturunan Tionghoa, terutama di Jawa mendapat perlakuan sangat tidak manusiawi.

Banyak pendapat berbeda darimana asal sentimen anti Cina ini. Tapi mungkin yang terdekat adalah sebagai bagian dari propaganda orde baru untuk menghantam negara China dalam perseteruan antar dua blok besar dunia yaitu barat dan timur pada masa itu.

Sampai sekarang, sentimen anti Cina selalu dipakai untuk menekan warga keturunan Tionghoa. Sejak kecil doktrin anti Cina selalu diipampatkan dalam benak melalui perkataan, tindakan atas ketidak senangan warga pribumi kepada keturunan Tionghoa dan hal tersebut diwariskan turun temurun.

Warga keturunan selalu digambarkan sebagai orang kaya dan pribumi orang melarat. Ini menambah ruang rapat gesekan dan menemui titik puncaknya pada peristiwa Mei 98. Dan kesalahan ini ada pada dua pihak, terpelihara begitu lama.

Mengapa Tuhan mengirimkan seorang Ahok?

Disinilah saya tidak mengerti, mengapa Tuhan mengirimkan seorang Ahok? Ia warga keturunan yang jelas dibenci beberapa pihak yang merasa bahwa tidak pantas seorang warga keturunan menjadi pemimpin mereka. Apalagi dia seorang nasrani, yang menyinggung perasaan sebagian orang yg begitu bangga akan agamanya, dengan selalu membawa ayat-ayat tentang dilarangnya Islam dipimpin oleh seorang kafir.

Kenapa Tuhan tidak mengirimkan seorang muslim pribumi untuk memimpin kota yang sebagian warganya muslim itu? Kenapa malah Ahok? Dalam perjalanan, barulah saya mencoba mengerti kenapa Tuhan mengirim seorang Ahok (Basuki Tjahaja Purnama).

Ahok, seorang manusia yang fenomenal

Ahok bisa dibilang manusia fenomenal. Ia menabrak sekat-sekat yang selama ini haram dilanggar yaitu sentimen yang sudah dipelihara sejak lama. Ia menjadi seorang warga keturunan yang pemberani, menantang begitu banyak ketidakadilan hanya karena ia seorang Tionghoa, sesuatu yang bukan kesalahannya kenapa ia dilahirkan dalam lingkungan minoritas.

Ia tidak canggung untuk menunjuk muka seorang yang selama ini dihormati oleh banyak masyarakat Betawi, membuka boroknya dan anehnya Ahok menang. Ahok menjadi pahlawan dan si pahlawan Betawi ini menjadi bully-an yang terkenal dalam sejarah, terutama di media sosial.

Ia juga berani menabok FPI, ormas ganas yang sudah pasti anti Cina. Ia juga mengamuk membongkar semua sistem birokrasi korup di jajarannya, memecat walikota, memberhentikan lurah-lurah dan melaporkan para pejabat Pemprov di bawahnya ke polisi untuk disidik.

Ia melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan selama bertahun-tahun oleh pemimpin-pemimpin pribumi yang kenyang perutnya. Ia meletakkan kembali sesuatu pada tempatnya dan menjalankan fungsinya.

Awalnya masyarakat terkaget-kaget dengan gayanya. Budaya santun dan munafik yg selama ini dipertontonkan, dibenturkan dengan budaya pesisir yang keras dan vokal apa adanya. Kalau nyebut anjing ya anjing, bukan disamarkan dengan kata “binatang yang berekor dan menjulurkan lidah.” Merahlah telinga sebagian orang, terutama yang merasa mukanya ditunjuk. Dan seperti biasa timbul kemarahan akibat ego yang diinjak dan terluka karena mereka dimarahi seorang Cina. Hal yang tidak pernah mereka bayangkan selama ini.

Ahok tidak peduli dengan kecinaannya, dan itu ia sebut berkali-kali di media massa. “Gua memang Cina, tapi gua lebih Indonesia daripada para koruptor itu …” Ia malah bangga karena ia berhasil membongkar sarang lebah dan membuat ngamuk banyak diantaranya, dan ia menikmatinya. Ia mengajak berantem siapa saja yang tidak sesuai dengan prinsip hidupnya.

Ahok yang menghargai rakyat kecil

Tapi ia luluh dengan rakyat kecil. Ia leleh dengan saudaranya yg beda agama. Ia membangun dan merenovasi masjid-masjid menjadi megah. Ia membangun rusun-rusun mewah dengan semua perabotan di dalamnya untuk memanusiakan mereka.

Ia kembali menerjang sekat tebal bahwa ia seorang keturunan Tionghoa dan seorang nasrani. Ia merebut cinta mereka. Ia menari dan bahagia bersama mereka. Dan ia sangat menikmatinya.

Ahok, seorang perwakilan dan duta besar WNI keturunan Tionghoa

Ahok menjadi perwakilan yang baik, seorang duta besar yang mewakili semua keturunan Tionghoa di Indonesia. Mereka bangga akan dia. Kebanggaan yang sama yg dimiliki warga pribumi muslim yang ingin memiliki pemimpin seperti dia di daerahnya. Ia meleburkan semua kebencian yang selama ini tertanam dan dipelihara begitu lama demi kepentingan, untuk membenturkan atas nama SARA. Ia merobek semua pemikiran lama dan merevolusi cara berfikir yang baru yang menekankan “apapun perbedaan kita, kita sama-sama manusia”.

Mungkin untuk itulah Tuhan mengirimkan seorang Ahok. Ia adalah gula dalam pahit dan kentalnya sekat-sekat perbedaan sebagai pelajaran bagi kita. Ia menjadi guru dalam mengajarkan bagaimana menjadi seorang manusia. Ia adalah secangkir kopi untuk kita. Bagaimana dengan pendapat anda setelah membaca tulisan diatas?

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Terlalu banyak informasi NEGATIF beredar di internet, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan inspirasi dan memotivasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan, serta kebaikan untuk pembacanya. Saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet. Kami ingin memastikan setiap tulisan di silahkanSHARE.com memang layak DIBACA dan DISHARE untuk memberikan kebaikan untuk para pembacanya! Anda setuju dengan KAMI, Silahkan bantu LIKE dan SHARE!

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Survei: Menurut Pria Inilah 10 Kriteria Istri Idaman Indonesia

Survei: Menurut Pria Inilah 10 Kriteria Istri Idaman Indonesia. SilahkanSHARE.com | Istri atau pasangan yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *