Thursday , 23 March 2017

Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Kolom Tokoh ::: Kisah Miliarder Pertama Paling Dermawan Sepanjang Sejarah

Kisah Miliarder Pertama Paling Dermawan Sepanjang Sejarah

Kisah Miliarder Pertama Paling Dermawan Sepanjang Sejarah.

SilahkanSHARE.com | Banyak orang kaya yang kini menjadi filantropis, atau dermawan yang menyumbangkan hartanya. Harta mereka disumbangkan untuk kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan hingga kesehatan. Bill Gates, orang terkaya dunia contohnya, yang punya yayasan Bill and Melinda Gates Foundation.

Warren Buffet, Mark Zuckerberg, dan miliarder yang juga orang terkaya dunia saat ini sering menyumbangkan sebagian hartanya untuk amal.

Ternyata, tradisi tersebut tak hanya terjadi di zaman sekarang saja. Dilansir dari the Week dan liputan6.com [12/01/16], Orang terkaya dunia sepanjang masa Andrew Carnegie adalah miliarder pertama yang menjadi filantropis, bahkan sebelum Bill Gates lahir apalagi Mark Zuckerberg.

Zaman dahulu, tumbuhnya industri telah menciptakan pemisah kekayaan antara pekerja di bawah dan dengan pimpinan yang kala itu disebut robber baron alias perampok. Robber baron kala itu diartikan sebagai kapitalis dan orang kaya yang tidak bermoral.

Dalam rangka mengatasi ketidakseimbangan ini, dan mungkin juga untuk meningkatkan reputasi mereka saat mendekati masa tuanya, beberapa pebisnis terkaya memilih untuk menyumbangkan hampir seluruh hartanya.

#1. Andrew Carnegie

Perintis alias pionir dari langkah ini adalah Andrew Carnegie. Orang kaya asal Skotlandia pemilik perusahaan baja US Steel, yang juga merupakan orang terkaya sepanjang masa. Crnegie yakin bahwa pengusaha sukses, secara moral wajib menyumbangkan hartanya membantu yang lain.

Saat dia meninggal di 1919, Carnegie memberikan lebih dari 90 persen hartanya atau sekitar lebih dari US$ 350 juta setara dengan US$ 4,8 miliar saat ini, dihitung dengan inflasi. Harta sebanyak itu ia sumbangkan untuk beberapa hal.

Dia membangun lebih dari 2.800 perpustakaan publik yang kini dikenal Carnegie-Mellon University di Pittsburgh, salah satu universitas riset terbaik di dunia.

Carnegie juga menghabiskan jutaan dolar AS untuk membuat banyak proyek di New York seperti New York Carnegie Hall dan tempat konser.

Pria yang hidup di masa 1853 hingga 1919 disebut-sebut sebagai orang terkaya Amerika sepanjang sejarah. Imigran dari Skotlandia ini menjual perusahaannya itu ke JP Morgan senilai US$ 480 juta pada 1901.

Carnegie bisa jadi pionir dari filantropis modern, tapi sifat dermawan dia tak berarti dihargai di dunia. Kondisi dari perusahaan baja di Pittsburgh miliknya menyedihkan di standar abad ke 19.

Carnegie dikenal ‘kejam’ pada karyawan. Pekerja bekerja selama 12 jam sehari, 6 hari seminggu dengan hanya 1 hari libur nasional per tahun yakni 4 Juli. Pekerjaannya melelahkan sehingga banyak buruh yang memutuskan untuk pensiun di umur 40.

Jadi saat Carnegie memilih untuk memberikan hartanya untuk sumbangan daripada meningkatkan gaji karyawan yang miskin, pemimpin buruh dan pendeta marah. Metodis, Bishop Hugh Price Hughes mennyebut perusahaan tersebut adalah fenomena anti kristen, tak punya sisi sosial, dan lainnya.

Tapi Carnegie menolak kritikan itu.  Dia berargumen bahwa dengan menetapkan keuntungan tinggi, dia punya uang lebih untuk melayani masyarakat sekitar di bidang perpustakaan dan pendidikan.

Tapi hal itu diabaikan dan tak dianggap pemerintah. Pekerja tak terima dengan logika berpikir Carnegie “Apa yang bagus dari buku yang dihasilkan dari orang yang bekerja 12 jam per hari dan 6 pekan per minggu,” tanya mereka.

#2. John D Rockefeller

Jejak Carnegie diikuti oleh orang terkaya dunia John D Rockefeller. Pendiri perusahaan minyak dan oli, Standard Oil ini punya aset US$ 1,4 miliar atau setara US$ 30 miliar saat ini.

Sumbangan Rockefeller berkontribusi membangun the University of Chicago, menyumbang program kesehatan yang menyediakan vaksin untuk meningitis, demam kuning, dan penyakit lainnya. Sumbangannya juga berkontribusi pada pembangunan pusat kesehatan publik di John Hopkins dan Harvard.

Pebisnis kaya lain yang juga filantropis pada masa lalu adalah pendiri perusahaan otomotif Ford, Henry Ford yang mendirikan yayasan sumbangan terbesar di Amerika. Juga industrialis Jean Paul Getty yang membuat institusi seni terkaya di dunia.

Penulis American Foundations Mark Dowie mengatakan, meski tujuan dari sumbangan yang mereka keluarkan berbeda, mereka memberikan satu motivasi yang sama: “Rasa bersalah, narsisme, paternalisme, keinginan untuk keabadian dan cinta kemanusiaan.”

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Berdasarkan data UNESCO, minat baca orang Indonesia sangat rendah diurutkan ke 60 dari 61 di dunia. Namun fakta mengejutkan lainnya, ternyata netizen Indonesia adalah yang paling cerewet di dunia. Dengan fakta itulah, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan informasi dan inspirasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembacanya. Apalagi saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan memang harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet.

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Kisah Bung Karno Soal Asal Mula Nama Pancasila

Kisah Bung Karno Soal Asal Mula Nama Pancasila. SilahkanSHARE.com | Hari Lahir Pancasila | Pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *