Sunday , 28 May 2017

Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Kesehatan ::: Hati-hati! Lima Faktor Ini Mempercepat Terjadinya Penyakit Pikun
Faktor Ini Mempercepat Terjadinya Penyakit Pikun (dream.co.id)

Hati-hati! Lima Faktor Ini Mempercepat Terjadinya Penyakit Pikun

Hati-hati! Lima Faktor Ini Mempercepat Terjadinya Penyakit Pikun.

SilahkanSHARE.com | Demensia atau penyakit pikun umum dialami oleh setiap manusia. Semakin bertambahnya umur, kapasitas otak akan semakin mengecil yang membuat seseorang akhirnya mudah melupakan sesuatu, yang pernah kita alami.

Pakar mengatakan demensia biasanya menyerang ketika seseorang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Namun jika memiliki beberapa faktor risiko ini, demensia bisa menyerang lebih cepat, bahkan sebelum usia 60 tahun.

Lalu, faktor apa saja yang membuat demensia menyerang lebih awal? Dikutip dari detikHealth.com, [18/08/16].  berikut 5 di antaranya:

#1. Kegemukan

Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Cambridge University menunjukkan dampak buruk kegemukan dan obesitas tidak hanya terjadi pada jantung ataupun pembuluh darah. Kegemukan dan obesitas juga membuat otak menua 10 tahun lebih cepat, yang secara otomatis mempercepat terjadinya pikun.

Hal ini diketahui setelah peneliti memeriksa 473 otak responden berusia 20-87 tahun. Secara alamiah semakin tua seseorang maka otak memang perlahan akan kehilangan bagian bernama materi putih (white matter) yang bertanggung jawab menyalurkan informasi, namun pada orang obesitas jumlah materi putih yang hilang jauh lebih banyak untuk kelompok usianya.

#2. Mudah Cemas

Meski ada yang mengatakan mudah cemas sebagai ‘bawaan lahir’, tetapi menurut sebuah penelitian karakter semacam ini akan meningkatkan peluang seseorang untuk terserang demensia atau kepikunan di kemudian hari.

Hal ini didasarkan pada hasil pengamatan terhadap 1.082 pasang kembar identik maupun non-identik selama 28 tahun. Masing-masing pasangan juga mengerjakan tes yang diberikan peneliti tiap tiga tahun sekali. Di waktu yang sama, partisipan juga mendapatkan screening untuk mengetahui risiko demensia mereka.

Ternyata dari situ peneliti menemukan, si tukang cemas berisiko 48 persen lebih besar untuk mengalami penurunan kognitif yang kemudian bisa memicu demensia, dibandingkan mereka yang tidak mudah cemas. Padahal studi ini hanya didasarkan pada pelaporan mandiri dari si partisipan, bukannya diagnosis klinis yang diberikan dokter.

#3. Cedera Kepala

Cedera kepala dan gegar otak bisa merusak pembuluh darah yang ada di otak. Akibatnya, seseorang akan lebih mudah lupa dan lebih cepat mengalami pikun atau demensia.

Hal ini menjadi perhatian setelah banyak atlet-atlet rugby di Amerika yang masuk rumah sakit dan didiagnosis mengalami demensia ketika baru berusia 50-55 tahun. Diduga kuat, hal ini disebabkan oleh benturan yang terjadi saat aktif sebagai atlet.

Pakar menyebut kondisi demensia pada atlet olahraga fisik rentan disebabkan oleh penyakit Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE), kondisi yang juga sering terjadi pada petinju.

#4. Stres dan Depresi

Penelitian yang dipimpin oleh Dimitry Davydow, MD, dari University of Washington School of Medicine menemukan stres dan depresi dapat meningkatn risiko terserang demensia lebih cepat. Tak tanggung-tanggung, risikonya meningkat hingga 83 persen!

Penelitian dilakukan kepada 4 juta warga Denmark berusia 50 tahun atau lebih. Secara keseluruhan, para peneliti menemukan hampir satu dari lima di antara peserta tersebut memiliki diagnosis depresi, dan mengidap demensia lebih awal daripada partispan lainnya.

#5. Penyakit Kronis

Mengidap penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit jantung, hingga stroke bisa membuat seseorang lebih cepat mengalami demensia. Hal ini terjadi akibat adanya gangguan pada sistem pembuluh darah di mana aliran darah ke otak menjadi berkurang dan membuat fungsi kognitifnya menurun.

Bahkan menurut penelitian, risiko mengidap demensia pada pasien penyakit kronis cukup besar, yakni 20 persen.

“Mengingat meningkatnya beban masyarakat terhadap penyakit kronis, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan mekanisme patofisiologi yang menghubungkan depresi, diabetes dan demensia, untuk mengembangkan intervensi yang bertujuan untuk mencegah komplikasi,” tutur Prof Dimitry Davydow, MD, dari University of Washington.

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Berdasarkan data UNESCO, minat baca orang Indonesia sangat rendah diurutkan ke 60 dari 61 di dunia. Namun fakta mengejutkan lainnya, ternyata netizen Indonesia adalah yang paling cerewet di dunia. Dengan fakta itulah, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan informasi dan inspirasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembacanya. Apalagi saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan memang harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet.

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

10 Perilaku Anak yang Menunjukkan Gejala Gangguan Mental

10 Perilaku Anak yang Menunjukkan Gejala Gangguan Mental. SilahkanSHARE.com | Sebagai orangtua, tentu sering mengkhawatirkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *