Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home ::: Inspirasi & motivasi ::: Agus Murtado, Ahli Elektronik yang Kerja Keras Hidupi Keluarga dengan Tubuh Cacat!

Agus Murtado, Ahli Elektronik yang Kerja Keras Hidupi Keluarga dengan Tubuh Cacat!

Agus Murtado, Ahli Elektronik yang Kerja Keras Hidupi Keluarga dengan Tubuh Cacat!

SilahkanSHARE | Agus Murtado | Diantara kita yang memiliki fisik normal dan utuh terkadang begitu mudah mengeluh saat ditimpa kesulitan. Padahal diluar sana pastilah masih banyak yang jauh lebih susah dari kita tapi mereka tetap tegar dan penuh syukur dan bersemangat.

Salah satunya yaitu kisah inspirasi dari seorng bernama Agus Murtado (38).

Dikutip dari detik.com [10/4/16], Agus Murtado merupakan contoh inspirasi kepala keluarga yang bekerja demi menghidupi keluarganya. Di tengah keterbatasannya dia selalu semangat dan tidak menyerah demi mencari nafkah demi keluarganya.

Sosoknya kerap terlihat di Stasiun Kebayoran Lama dengan tongkat di tangan kanannya. Dia berjalan tertatih setiap menaiki atau menuruni tangga di stasiun itu.

“Pekerjaan saya buka servis elektronik namanya Galuh Service,” ujarnya membuka pembicaraan dengan detikcom, Sabtu (9/4/2016).

Agus bercerita dia kerap dicibir mengenai usahanya memperbaiki alat-alat elektronik karena keterbatasan fisiknya. Bahkan dia kerap menjadi tontonan ketika sedang memperbaiki alat-alat elektronik.

“Kendala saya orang nggak percaya sama (kondisi) fisik, kedua kalau kita ada yang harus dibeli kita minta tolong sama orang lain. Untuk angkat-angkat alat saya suka menggunakan satu tangan saja,” kisahnya.

“Jadi untuk naik turun alat TV, naik turun meja itu yang agak (kesulitan). Kalau sekarang jadi tontonan, soalnya kalau servis (saya juga) pakai mulut, kan tangan saya cuma satu kalau membutuhkan dua tangan ya pakai mulut,” tutur pria yang merupakan warga asli Jakarta ini.

Agus bercerita jika dia dilahirkan normal. Saat usianya 17 tahun sebuah kecelakaan kereta yang membuat kedua kakinya dan satu tangannya harus diamputasi.

“Dulu saya sekolah SMEA jurusan akuntansi, saya punya cita-cita sebagai akuntan. Tepatnya 2 September 1995, kejadiannya malam saya menyeberang di jalan dekat Stasiun Kebayoran Lama dan jatuh. Ada kereta lewat dan saya terlindas,” kenangnya.

Agus tak menampik jika dirinya sempat putus asa dengan kondisinya. Akibat kecelakaan itu dia harus dibantu dengan kaki palsu dan berjalan menggunakan tongkat. Dengan bantuan rehabilitasi dan dukungan keluarga dia tak mau lama berputus asa.

“Pasti sempet down, kejadian seperti ini ya down banget. Sampai sempat tinggal di pesantren sekitar satu tahun. Pernah tinggal di yayasan dulu namanya PSPB Budi Bakti, saya tiga tahun di sana diajari elektronik,” terang Agus.

Agus memandang semua peristiwa tersebut menjadi berkah. Bagaimana tidak di pesantren dia bertemu dengan wanita yang kelak menjadi ibu dari dua anaknya. Menimba ilmu di yayasan hingga akhirnya dia memiliki kemampuan memperbaiki alat-alat elektronik seperti sekarang.

“Yang menginspirasi saya ada seseorang, dia itu tangannya nggak ada tapi bisa menganyam dengan tangan yang cuma ada satu jari di kiri kanan. Itu jadi semangat buat saya,” ujarnya bangga.

Karena memiliki kekurangan, Agus kerap dipandang sebelah mata. Dia bercerita bahwa ada seorang pelanggan yang meragukan kemampuannya hingga membeli sebuah televisi rongsokan untuk diperbaikinya.

“Saya ngerjain TV itu dan ditunggu sampai selesai. Begitu selesai TVnya nggak dibawa saya malah dikasih uang Rp 200 ribu juga. Saat itu dia nggak ngomong apa-apa tapi meluk saya,” kisah bapak dua putri ini.

Saat ini beberapa orang yang tadinya memandangnya sebelah mata malah sekarang menjadi langganan di bengkel servisnya. Pendapatannya pun cukup lumayan, hampir setara dengan nilai UMR Jakarta. Dia pun meminta rekan-rekannya agar jangan berkecil hati meski memiliki keterbatasan fisik.

“Meski kita punya keterbatasan (fisik) kita harus semangat, kalau kita semangat apapun yang kita mau bisa kita dapat. Seperti saya, bagaimana kata orang saya bersemangat Alhamduliah saya bisa menghidupi keluarga,” ujarnya bangga.

Sebagai penyandang difabel, dia pun mengeluhkan transportasi publik yang belum ramah bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Dia mencontohkan stasiun Kebayoran Lama yang tidak mendukung akses bagi orang senasibnya.

“Saya minta tolong juga untuk di stasiun bisa dilihat orang-orang seperti saya nggak maksimal. Kalau posisi stasiun di atas jadi harus naik tangga untuk orang-orang seperti saya susah banget. Ada lift pun dari atas ke dalam ke area peron-peron,” tukasnya.

“Bahkan selama Stasiun Kebayoran Lama selesai jadi tingkat, sudah empat kali kaki palsu saya rusak. Mau nggak mau saya memperbaiki pakai biaya sendiri. Itupun kalau ada biaya, kalau bisa saya betulkan ya betulkan sendiri,” katanya.

Agus sehari-hari tinggal di bengkelnya di Jl Giban RT 4 RW 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sedangkan isteri dan kedua putrinya tinggal di Tigaraksa Tangerang. Agus seminggu sekali pulang untuk menengok keluarganya, dia menggunakan kereta rel listrik (KRL) sehingga benar-benar kewalahan ketika naik turun tangga di Stasiun Kebayoran Baru.

Bagaimana komentar anda usai baca tulisan diatas?

Tentang SilahkanSHARE.com

Terlalu banyak informasi NEGATIF beredar di internet, SilahkanShare.com ingin menyajikan informasi yang bisa memberikan inspirasi dan memotivasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan, serta kebaikan untuk pembacanya. Saat ini sudah terlalu banyak informasi yang isinya lebih cenderung merusak, jadi memang harus jadi pembaca cerdas dan harus kita sendirilah yang harus menyaring sebuah informasi di internet. Kami ingin memastikan setiap tulisan di silahkanSHARE.com memang layak DIBACA dan DISHARE untuk memberikan kebaikan untuk para pembacanya! Anda setuju dengan KAMI, Silahkan bantu LIKE dan SHARE!

Mungkin Anda Ingin Baca Tulisan ini Seperti Pengunjung yang Lain?

Kekayaan Bukanlah Ukuran Sukses dari Seseorang

Kekayaan Bukanlah Ukuran Sukses dari Seseorang. SilahkanSHARE.com | Siapa yang tidak ingin sukses? Semua orang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *